Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD mengajak negara ASEAN meningkatkan kerja sama keamanan. Langkah itu dinilai penting untuk melawan kelompok teroris yang kini terus berkembang di wilayah Asia Tenggara.

Ajakan itu disampaikan langsung oleh Mahfud dihadapan para menteri pertahanan dan perwakilan negara ASEAN di dalam acara Political Security  Community (APSC) yang ke-20 di Thailand, kemarin. Mahfud menuturkan, isu  terorisme harus menjadi perhatian bersama. Karena, gerakan kelompok teroris masih menjadi ancaman keamanan di  ASEAN.

“Jika ada koordinasi dan kerja sama semakin intensif di negara  ASEAN maka teroris akan mudah dikalahkan,” ungkap Mahfud. Mahfud memaparkan lima hal penting terkait masalah politik dan keamanan yang perlu menjadi perhatian bersama negara ASEAN.

RelatedPosts

Pertama, masalah  terorisme. Diungkapkannya, kelompok teroris terus mengubah taktik dan strategi. Antara lain, kini melibatkan perempuan sebagai aktor serangan. “Saat ini, teroris menggunakan anak-anak dan perempuan dalam melakukan teror. Mereka  terus merekrut anggota-anggota  baru yang siap bertempur,” ujarnya.

Perekrutan itu, lanjut Mahfud, terjadi di beberapa negara ASEAN yang dianggap menjadi ladang subur timbulnya radikalisme. Diakuinya, Indonesia  merupakan salah satu negara  yang dianggap menjadi tempat perekrutan teroris. Menurutnya,  perlu tekad bersama yang kita dalam menghadapi Foreign Terrorist Fighters (FTF) yang kembali ke wilayah ASEAN. “Kita tidak punya pilihan lain selain menghentikan upaya mereka dalam membangun jaringan dan menyebarkan narasi radikal dan melakukan kekerasan ekstrimisme,” ungkap Mahfud.

Kedua, masalah revolusi industri 4.0 dan ekonomi digital. Menurut Mahfud, ASEAN harus menjaga ruang siber dari kemungkinan terjadinya serangan. Serta mampu mengatasi tantangan seperti cross-border  data flow dan perlindungan data pribadi. “Karenanya, sangat penting  bagi ASEAN untuk memperkuat kerja sama kami dalam keamanan siber,” jelasnya.

Ketiga, terkait masalah penyelundupan narkoba. Mahfud mengatakan, masalah perdagangan narkoba masih marak terjadi. Diharapkannya, negara-negara anggota ASEAN berkomitmen di dalam melakukan penanggulangan obat-obat terlarang. Indonesia sendiri, terus mengantisipasi masuknya narkoba dari negara lain. Petugas keamanan TNI, Polri dan  Imigrasi disiagakan di daerah  perbatasan yang menjadi pintu  masuk narkoba.

Keempat, soal ASEAN Outlook on Indo Pacific (AOIP). Mahfud mendorong potensi kerja  sama AOIP diimplementasikan  melalui kerja sama praktis. “Implementasi AOIP akan  menunjukan peran aktif dan  sentralitas ASEAN dalam menciptakan ekosistem yang damai  di kawasan ini,” ujarnya.

Kelima, penanganan hak asasi manusia antarpemerintah ASEAN. Mahfud menyampaikan  setelah 10 tahun terbentuknya ASEAN Intergovernmental Commission for Human Rights  (AICHR), sudah saatnya untuk mereview Kerangka Acuan AICHR dalam upaya pemajuan dan perlindungan Hak Asasi Manusia di Kawasan.  “Tantangan dan masalah yang saya sebutkan di atas hanya  dapat diatasi ketika kita bersatu dan sentralitas ASEAN adalah kuncinya,” imbuhnya.

Source :

RMCO

Related Posts

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate

Popular Post